Rabu 2 September 2026 - 03:27
Sirah Nabi Muhammad Saww adalah teladan Persatuan Antar Pemeluk Agama

Hawzah/ Hujjatul-Islam Sayyid Kalb Rasyid mengatakan: Sirah Nabi Muhammad Saww mengajarkan kita bahwa dengan mengesampingkan perbedaan-perbedaan, kaum Syiah dan Sunni serta pemeluk agama lainnya dapat bersama-sama membangun masyarakat yang bersatu, penuh empati, serta sarat dengan perdamaian dan ketentraman.

Berita Hawzah – Bertepatan dengan peringatan kelahiran mulia Nabi Agung Islam, Muhammad Al-Mustafa Saww, dan Pekan Persatuan, sebuah konferensi megah dengan tema "Dialog Antaragama dan Solidaritas Keagamaan" diselenggarakan di Sekolah Imam Ja'far Shadiq as, wilayah Begam Ganj, Jaunpur, India.

Dalam konferensi ini, hadir sejumlah ulama dan pemimpin dari berbagai agama dan mazhab, para cendekiawan, dosen, pelajar agama, mahasiswa, dan berbagai lapisan masyarakat, yang menekankan pentingnya penguatan dialog, empati, persatuan, dan hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat.

Persatuan; Melampaui Perbedaan Mazhab

Hujjatul-Islam Sayyid Kalb Rasyid, seorang ulama India, dengan merujuk pada kedudukan Nabi Muhammad Saww sebagai "rahmat bagi seluruh alam" (Rahmatan lil-'Alamin), menyatakan: Nabi Islam Saww diutus untuk membimbing dan memberikan rahmat kepada seluruh umat manusia, dan Pekan Persatuan adalah kesempatan berharga untuk mengesampingkan perbedaan-perbedaan dan semakin menekankan persatuan serta solidaritas.

Beliau menambahkan: Rasulullah Saww bahkan memaafkan musuh-musuhnya, dan melalui sirah serta perilakunya, beliau mengajarkan kepada umat manusia pelajaran tentang persatuan, pemaafan, dan toleransi. Saat ini, umat Islam dan masyarakat India lebih dari sebelumnya membutuhkan semangat seperti ini.

Hujjatul-Islam Sayyid Kalb Rasyid menekankan: Persatuan tidak hanya berarti mendekatkan Syiah dan Sunni, tetapi seluruh lapisan masyarakat, termasuk Hindu dan Muslim, harus berupaya bersama-sama membangun masyarakat yang aman, bersatu, dan maju; karena makna sejati persatuan adalah menyatukan hati dan memperkuat empati antarmanusia.

Al-Qur'an dan Weda; Pesan Bersama tentang Cinta dan Kemanusiaan

Pandit Vijay Kumar Sharma, salah seorang pemimpin komunitas Hindu, juga mengatakan: India adalah negeri para bijak, resi, dan nabi, dan ajaran Weda serta Al-Qur'an yang mulia, keduanya, mengajak manusia kepada cinta, kebenaran, dan kemanusiaan.

Dengan merujuk pada pribadi Nabi Muhammad Saww, beliau menyatakan: Nabi Muhammad Al-Mustafa Saww menunjukkan kepada umat manusia jalan kejujuran, amanah, dan persaudaraan, dan penyelenggaraan dialog-dialog semacam ini dapat menjadi sarana untuk meruntuhkan tembok-tembok kebencian dan kesalahpahaman serta memperkuat hubungan antar pemeluk agama dan berbagai mazhab.

Kebencian dan Sekterianisme; Penyakit Masyarakat

Dr. Ja'fari, Kepala dan Pengelola Medis Koleg Kedokteran Jaunpur, dengan merujuk pada pengalamannya di bidang kedokteran, menyatakan: Seorang dokter ketika berhadapan dengan pasien, pertama-tama ia melihat seorang manusia, dan tidak membedakan antara pasien berdasarkan agama dan keyakinan.

Ia menambahkan: Nabi Muhammad Saww juga memberikan perhatian khusus pada martabat dan kedudukan manusia. Kebencian dan sekterianisme dalam masyarakat dapat diibaratkan sebagai penyakit yang pengobatannya tidak mungkin kecuali melalui cinta kasih, dialog, dan penguatan solidaritas sosial.

Dr. Ja'fari menegaskan: Penyelenggaraan konferensi-konferensi semacam ini dapat menjadi langkah efektif dalam upaya mengatasi kerusakan sosial ini dan menciptakan suasana saling pengertian, empati, serta hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat.

Hujjatul-Islam Sayyid Taqi Taqawi, perwakilan Rumah Budaya Iran di Delhi, juga dengan merujuk pada perilaku Nabi Muhammad Saww saat penaklukan Mekkah menyatakan: Rasulullah Saww dengan mengumumkan amnesti umum menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama balas dendam, melainkan agama rahmat, pemaafan, dan kemanusiaan.

Ia menekankan: Generasi muda harus lebih dari sebelumnya mengenal dimensi-dimensi berharga dari sirah Nabi Muhammad Saww. Persatuan dan empati bukanlah kelemahan bagi masyarakat Islam, melainkan modal terbesar dan kekuatannya.

Perbedaan Ilmiah, Bukan Penghalang Persatuan

Hujjatul-Islam Sayyid Kazhim Mahdi 'Uruj, seorang ulama India, juga dengan merujuk pada ajaran Imam Ja'far Shadiq as mengatakan: Imam Shadiq as mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan-perbedaan ilmiah dapat menjadi landasan bagi rahmat, pertumbuhan, dan dinamika pemikiran.

Ia menambahkan: Filosofi Pekan Persatuan adalah bahwa umat Islam, meskipun terdapat beberapa perbedaan fikih dan cabang-cabangnya, namun dalam prinsip-prinsip dasar seperti tauhid, kenabian, dan Al-Qur'an yang mulia mereka memiliki kesamaan, dan dengan mengandalkan kesamaan-kesamaan ini mereka dapat berdiri bersama.

Ulama agama ini menekankan: Selama seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya Syiah dan Sunni, tetapi juga Hindu dan Muslim serta kelompok-kelompok sosial lainnya, tidak bersatu, masyarakat dan negara tidak akan dapat mencapai kemajuan dan pembangunan yang sesungguhnya.

Penghargaan kepada Aktivis Sosial dan Budaya

Di bagian penutup konferensi ini, sebanyak 10 tokoh dan aktivis terpilih yang telah memberikan jasa-jasa berharga di berbagai bidang kepada masyarakat, diberikan penghargaan berupa piagam penghargaan dan plakat peringatan.

Acara ini berakhir dalam suasana yang akrab dan memupuk persatuan, dan para hadirin menekankan pentingnya memperkuat perdamaian, keamanan, persaudaraan, solidaritas, dan empati di antara berbagai lapisan masyarakat.

Sirah Nabi Muhammad saw adalah teladan persatuan, rahmat, dan hidup berdampingan antar pemeluk agama.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha